Penerapan prinsip-prinsip Masonik
dalam pendidikan-ulang rakyat-rakyat. Semboyan Masonik. Pengertian Anti
Semitisme. Kediktatoran Masonry. Teror . Siapa pelayan-pelayan Masonry.
Pengertian kekuatan "tajam mata" dan kekuatan "buta" dari Negara-Negara
Goyim. Komuni antara penguasa dan mob. Lisensi liberalisme. Pengendalian
pendidikan dan pelatihan. Teori-teori keliru. Interpretasi hukum.
Gerakan-gerakan "Bawah Tanah" (Metropolitan-Metropolitan).
Sebelum menerapkan prinsip-prinsip kita,
terlebih dahulu harus kita pelajari sifat-sifat dari rakyat di negeri
mana anda berada dan bekerja. Penerapan prinsip-prinsip kita yang
dilakukan secara umum dan sama dengan pola kita hingga jangka waktu
tertentu kepada rakyat yang dididik kembali ( re-educated ), tidak akan
mendatangkan hasil. Akan tetapi, melalui pendekatan penerapan yang
hati-hati, akan anda lihat bahwa tidak sampai satu dekade, sifat-sifat
yang paling bebal sekali pun akan berubah, dan kemudian akan kita
masukkan satu rakyat baru ke dalam barisan-barisan lama yang telah kita
tundukkan sebelumnya.
Kata-kata liberal, yang terdapat di
dalam kata-kata semboyan Masonik kita, " Liberty, Equality, Fraternity
", akan berubah, pada saat kita memasuki kerajaan kita, menjadi
kata-kata yang bukan lagi merupakan semboyan, tapi hanya sebuah ekspresi
idealisme belaka, yakni menjadi: "Hak kebebasan ( the right of liberty
), tugas persamaan ( the duty of equality ), dan cita-cita persaudaraan (
the ideal of brotherhood )." Begitulah cara kita harus mengubahnya -
dan begitu pulalah cara kita memperlakukan simbol ini - dan oleh karena
itu akan kita hadapi bahaya ini dengan penuh keberanian ........... de
facto kita telah hapuskan semua peraturan, kecuali peraturan kita
sendiri, meski de jure masih tetap ada peraturan-peraturan yang baik.
Sekarang ini, bila ada Negara yang mengajukan protes terhadap kita, itu
hanyalah pro forma saja atas kebijakan kita, dan atas pengarahan kita,
karena anti-Semitisme mereka itu sangat berguna bagi kita untuk
manajemen saudara-saudara seagama kita yang lebih rendah . Saya tidak
akan menjelaskan lebih lanjut lagi tentang masalah ini, karena masalah
ini telah kita bahas berulang kali.
Bagi kita tidak ada patokan untuk
membatasi ruang lingkup aktifitas kita. Super Pemerintah [Pemerintah
Bangsa-Bangsa] kita hidup dalam kondisi-kondisi ekstra legal yang
digambarkan dalam terminologi yang disepakati dengan kata yang energetik
dan memaksa - Kediktatoran. Saya berhak untuk mengatakan kepada anda
dengan penuh kesadaran bahwa pada saat yang tepat kita, sebagai pemberi
hukum, akan melaksanakan pengadilan dan penghukuman, Akan kita bantai
dan tidak akan kita beri kelonggaran sedikit pun. Kita, sebagai komandan
dari seluruh tentara kita, duduk di atas kuda pimpinan. Kita memerintah
dengan kekuatan kehendak, karena di tangan kita terdapat
serpihan-serpihan dari sebuah partai yang pernah berkuasa, yang kini
telah kita taklukkan. Dan senjata-senjata di tangan-tangan kita adalah
ambisi-ambisi tanpa batas, ketamakan yang membara, balas-dendam tanpa
kasihan, kebencian-kebencian, dan kedengkian-kedengkian.
Dari kitalah semua serba teror itu
berasal. Pada petugas kitalah terdapat semua opini, semua doktrin, para
monarkis yang direstorasi, para penghasut, para sosialis, orang-orang
komunis, dan pemimpi-pemimpi utopia dari segala jenis . Mereka itu semua
telah kita beri tugas-tugas. T iap petugas, dengan rekening di tangan
masing-masing, membongkar habis sisa-sisa penguasa, menghancurkan semua
bentuk tatanan yang ada . Dengan tindakan-tindakan ini semua negara
dibuat tersiksa; mereka berusaha menuju ke ketenangan, siap mengorbankan
segala sesuatu untuk kedamaian; tapi kita tidak akan memberi mereka
rasa kedamaian sampai mereka secara terbuka mengakui Super-Pemerintah
[Pemerintah Bangsa-Bangsa] internasional kita , disertai dengan segala
kepatuhan.
Orang-orang telah menyerukan tentang
perlunya dilakukan penataan masalah-masalah Sosialisme melalui
kesepakatan internasional. Pembagian menjadi kelompok-kelompok
fraksional telah membuat mereka jatuh ke dalam tangan-tangan kita,
karena untuk memenangkan sebuah persaingan keras itu memerlukan uang,
dan semua uang itu telah berada di dalam genggaman kita.
Kita mungkin punya alasan untuk mencegah
terjadinya persatuan antara kekuatan "tajam mata" ( clear-sighted )
dari raja-raja goy yang ada di atas singgasana-singgasana mereka, dengan
kekuatan "buta" dari rakyat jelata ( mobs ), tapi telah kita lakukan
semua tindakan yang diperlukan untuk mengatasi timbulnya kejadian
tersebut: di antara kedua kekuatan itu dengan telah dibangunnya sebuah
dinding pembatas berbentuk saling teror di antara mereka. Dengan cara
ini kekuatan buta dari rakyat jelata tetap berada dalam dukungan kita,
dan kita, sekali lagi hanya kita saja, akan mempersiapkan bagi mereka
seorang pemimpin dan, sudah tentu dengan pemimpin yang mengarahkan
mereka di sepanjang jalan menuju sasaran kita.
Agar tangan-tangan dari mob buta itu
tidak bisa lepas dari bimbingan kita, maka kita harus selalu, kini
maupun nanti, melakukan komuni erat dengan mereka, meski tidak secara
perorangan, pada tingkat apa saja, melalui beberapa orang terpercaya di
antara saudara-saudara kita. Kalau kita diakui sebagai satu-satunya
penguasa, maka akan kita bahas dengan rakyat secara pribadi di
pasar-pasar, dan akan kita instruksikan kepada mereka masalah-masalah
politik dengan kebijakan sedemikian rupa yang bisa membawa mereka ke
arah yang kita kehendaki.
Siapa yang akan memverifikasi terhadap
apa-apa yang diajarkan di sekolah-sekolah desa? Tapi, apakah seorang
utusan dari pemerintah atau raja yang berkuasa bisa mengatakan tidak
dapat, kecuali jika segera dikenal di seluruh Negara, karena akan
tersebarluas di luar negeri melalui suara rakyat.
Untuk tidak melenyapkan lembaga-lembaga
Goyim sebelum saatnya tiba, maka pada lembaga-lembaga itu telah kita
berikan sentuhan-sentuhan keahlian dan kehalusan, dan telah kita kuasai
ujung-ujung dari pegas-pegas yang menggerakkan mekanisme lembaga-lembaga
itu. Pegas-pegas itu melakukan pengaturan dengan ketat dan rapih: Kita
telah gantikan lisensi lembaga-lembaga itu dengan lisensi liberalisme
yang kaostik. Kita telah tempatkan tangan-tangan kita ke dalam
penyelenggaraan undang-undang, ke dalam penyelenggaraan pemilihan umum,
ke dalam pers, ke dalam kebebasan orang, namun secara prinsipil melalui
pendidikan dan pelatihan sebagai batu-batu tonggak bagi sebuah
eksistensi bebas.
Sudah kita kelabui, buat kagum, dan
rusak para pemuda Goyim dengan cara membesarkan mereka di dalam
prinsip-prinsip dan teori-teori yang menurut kita sebenarnya adalah
salah, meski semua yang kita tanamkan pada mereka itu dirancang oleh
kita.
Di atas undang-undang yang ada telah
kita tetapkan sebuah rencana besar dalam bentuk hasil-hasil, tanpa
melakukan perubahan substansial, tetapi dengan cara memelintir
undang-undang itu ke arah interpretasi-interpretasi yang kontradiktif,.
Hasil-hasil itu akan mendapatkan ekspresi pertamanya dalam bentuk
interpretasi-interpretasi yang berkedokkan undang-undang. Kemudian,
interpretasi-interpretasi itu akan menyembunyikan seluruh undang-undang
itu dari penglihatan pemerintah, karena mustahil untuk menguraikannya
dari kemelut tali-temali legislasi. Inilah asal-usul dari teori
arbitrasi.
Anda mungkin akan mengatakan bahwa Goyim
itu akan mengangkat senjata melawan kita, jika mereka telah dapat
menduga tentang apa yang sedang berlangsung sebelum saat itu tiba; akan
tetapi, di Barat kita telah mengatasi hal semacam ini dengan melakukan
manuver teror yang sedemikian mengerikannya, sehingga mereka yang paling
gagah berani sekali pun menjadi gemetaran dibuatnya - berupa
gerakan-gerakan bawah tanah dan metropolitan, yang sebelum saat itu tiba
akan dijalankan dengan menggunakan semua modal, dan modal-modal itu
kemudian akan ditebarkan ke udara beserta seluruh organisasi dan arsip
mereka.
BACA JUGA TENTANG Protocol Of Zion:
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion_20.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-22-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-21-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-20-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-19-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-18-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-17-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-16-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-15-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-14-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-13-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-12-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-11-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-10-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-9-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-8-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-7-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-6-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-5-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-4-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-3-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-2-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/the-protocols-of-learned-elders-of-zion.html
BACA JUGA TENTANG Protocol Of Zion:
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion_20.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-22-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-21-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-20-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-19-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-18-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-17-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-16-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-15-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-14-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-13-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-12-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-11-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-10-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-9-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-8-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-7-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-6-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-5-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-4-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-3-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-2-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/the-protocols-of-learned-elders-of-zion.html

0 komentar:
Posting Komentar