Tahapan sebuah Republik. Gentile
Masonry. Kebebasan dan Kepercayaan. Persaiangan Industri Internasional.
Peranan Spekulasi. Kultus Emas.
Tiap republik berjalan melewati beberapa tahapan. Tahap pertama dimulai dalam masa-masa awal dengan amuk kemarahan dari mob [massa rakyat] yang buta, yang terombang-ambing ke sana-ke mari, ke kanan dan ke kiri. Tahap kedua adalah demagogi (penghasutan) yang lalu melahirkan anarki, dan kemudian mau tak mau pasti kepada despotisme. Tidak berapa lama kemudian menjadi legal dan terbuka, dan dengan demikian menjadi despotisme yang bertanggungjawab, tapi tidak terlihat dan tersembunyi secara rahasia. Akan tetapi, keberadaan despotisme ini dapat dirasakan hanya di dalam tangan-tangan beberapa organisasi rahasia atau lainnya saja, yang tindakan-tindakan mereka itu lebih tidak bermoral, karena cara kerjanya yang berada di belakang layar, di balik punggung segala macam agen, yang perubahannya tidak hanya sangat mempengaruhi saja, tetapi juga sebetulnya membantu kekuatan rahasia itu dengan penyelamatannya, berkat perubahaan-perubahan yang terus-menerus, dalam kebutuhan-kebutuhan untuk pembelanjaan sumber-sumber dayanya sebagai ganjaran atas jasa-jasa yang berjangka panjang.
Siapa dan apa kekuatan tak terlihat yang
memiliki posisi untuk menumbangkan ini? Kekuatan ini persis sama dengan
kekuatan yang ada pada kita ini. Gentile Masonry ini secara tertutup
bertindak selaku tabir antara kita dan sasaran-sasaran kita, tetapi
rencana aksi kekuatan kita serta tempatnya yang sangat abadi, tetap
merupakan misteri yang tidak bisa diketahui oleh publik.
Bahkan kebebasan ( freedom ) itu
sebenarnya bisa tidak berbahaya dan ada tempatnya di dalam Ekonomi
Negara tanpa mencederai kesejahteraan rakyat-rakyat, jika kebebasan itu
bertopang pada landasan kepercayaan kepada Tuhan, pada persaudaraan
kemanusiaan, dan tidak terkait dengan konsepsi persamaan ( equality ),
yang dinegatifkan oleh hukum dasar dari penciptaan, karena hukum dasar
itu telah menetapkan adanya subordinasi. Dengan kepercayaan seperti itu
rakyat bisa diatur oleh pimpinan-pimpinan jemaat setempat, sehingga
dapat berjalan dengan keikhlasan dan kerendahan hati di bawah tuntunan
pendeta rohaniahnya, dengan penyerahan tulus kepada Tuhan di dunia ini.
Inilah alasannya mengapa hal ini sangat penting bagi kita untuk
menghancurkan semua kepercayaan, dengan mencabut dari ingatan-ingatan
Goyim tentang prinsip dasar Ketuhanan dan ruh, dan lalu menggantikannya
dengan kalkulasi-kalkulasi aritmatika dan kebutuhan-kebutuhan materi.
Untuk membuat Goyim itu tidak punya
waktu untuk berpikir dan membuat catatan-catatan, maka pikiran-pikiran
mereka itu harus dialihkan kepada industri dan perdagangan. Dengan cara
ini seluruh bangsa-bangsa di dunia akan terseret ke dalam arus perburuan
kebendaan sehingga di dalam arus perpacuan mendapatkan keuntungan
kebendaan ini akan membuat mereka tidak punya kesempatan untuk
memperhatikan musuh bersama mereka. Tapi, sekali lagi, agar kebebasan
itu bisa meruntuhkan dan menghancurkan semua masyarakat Goyim itu
sekaligus, kita harus tempatkan industri itu pada basis spekulatif.
Hasilnya nanti akan berupa semua yang diserap dari tanah oleh industri
akan berjalan melalui tangan-tangan dan melewati spekulasi, yakni kepada
kelas-kelas kita.
Perjuangan yang intensif menuju
superioritas dan goncangan-goncangan yang disalurkan ke dalam kehidupan
ekonomi akan menciptakan - yang sebenarnya telah benar-benar menciptakan
- masyarakat-masyarakat yang kecewa, dingin dan kejam.
Masyarakat-masyarakat seperti ini akan terdorong kepada keengganan kuat
terhadap politik tinggi dan agama. Satu-satunya tuntunan mereka adalah
perolehan, yakni Emas, yang akan mereka tegakkan menjadi kultus yang
sesungguhnya, karena emas itulah yang bisa memberi mereka
kesenangan-kesenangan. Kemudian datanglah saat untuk menyerang - bukan
untuk mendapatkan kebaikan, dan bukan pula untuk meraih kekayaan, tapi
semata-mata karena kebencian pada privilese, hak-hak istimewa - saat
ketika kelas-kelas Goyim yang lebih rendah akan mengikuti perintah
pimpinan kita untuk menyerang saingan-saingan kita menuju kekuasaan,
yakni para Goyim terpelajar.
BACA JUGA TENTANG Protocol Of Zion:
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion_20.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-22-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-21-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-20-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-19-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-18-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-17-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-16-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-15-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-14-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-13-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-12-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-11-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-10-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-9-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-8-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-7-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-6-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-5-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-4-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-3-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-2-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/the-protocols-of-learned-elders-of-zion.html
BACA JUGA TENTANG Protocol Of Zion:
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion_20.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-22-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-21-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-20-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-19-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-18-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-17-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-16-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-15-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-14-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-13-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-12-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-11-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-10-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-9-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-8-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-7-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-6-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-5-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-4-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-3-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-2-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/the-protocols-of-learned-elders-of-zion.html

0 komentar:
Posting Komentar