Kebenaran terletak pada Kekuatan.
Kebebasan - hanya cita-cita saja. Liberalisme. Emas. Kepercayaan.
Pemerintahan Sendiri. Despotisme Modal. Musuh Internal. Mob. Anarki.
Politik versus Moral. Kebenaran dari si Kuat. Kegaiban dari Otoritas
Yahudi-Masonik. Tujuan Menghalalkan Cara. Mob: Orang Buta. Politik
A.B.C. Perpecahan Partai Bentuk Pemerintahan Paling Memuaskan -
Despotisme. Alkohol. Klasikisme. Korupsi. Prinsip-Prinsip dan
Peraturan-Peraturan Pemerintahan Yahudi-Masonik. Teror. "Liberty,
Equality, Fraternity." Prinsip-Prinsip Pemerintahan Dinasti. Penghapusan
privilese Goy-Aristokrasi (non-Yahudi). Aristokrasi Baru. Kalkulasi
Psikologis. Keabstrakan "Liberty." Kekuatan penghapusan wakil-wakil
rakyat.
Dengan meniadakan ungkapan-ungkapan
halus akan kita bicarakan perihal pentingnya setiap pemikiran: dengan
pembandingan dan deduksi akan kita sorotkan cahaya pada fakta yang
terjadi di sekeliling kita.
Apa yang akan saya kemukakan disini
adalah sistem kita yang dilihat dari dua sudut pandang, yakni sudut
pandang kita dan sudut pandang Goyim (non-Yahudi).
Harus diingat bahwa manusia dengan
naluri buruk itu jumlahnya jauh lebih banyak daripada manusia yang
bernaluri baik, dan oleh sebab itu hasil yang terbaik dalam mengatur
mereka adalah dicapai dengan jalan kekerasan dan terorisasi, bukan
dengan jalan diskusi-diskusi akademis. Setiap orang bertujuan pada
kekuasaan, setiap orang suka menjadi diktator bila hanya itu yang ia
dapat capai, dan pasti banyak orang-orang yang berkeinginan untuk
mengorbankan kesejahteraan semua orang demi mengamankan kesejahteraan
mereka sendiri.
Apa yang telah menahan binatang-binatang pemangsa bernama manusia itu? Apa yang telah menuntun mereka sampai saat sekarang ini?
Pada struktur awal, masyarakat manusia
itu tunduk kepada kekuatan brutal dan buta; setelah itu baru kepada
Hukum, yang merupakan kekuatan yang sama, yang disamarkan. Jadi, saya
simpulkan, bahwa menurut hukum alam, kebenaran itu terletak pada
kekuatan.
Kebebasan berpolitik itu hanyalah
cita-cita ( idea ) semata, bukan fakta. Seseorang harus tahu bagaimana
caranya menggunakan umpan cita-cita ini apabila nampak diperlukan untuk
menarik kelompok-kelompok massa rakyat kepada sebuah partai dengan
tujuan untuk menghancurkan partai lain yang sedang berkuasa. Tugas ini
akan dipermudah bila pihak lawan telah terinfeksi sendiri oleh cita-cita
kebebasan yang bernama liberalisme , yang demi cita-cita itu ia mau
menyerahkan sebagian dari kekuasaannya.
Di sinilah letak keunggulan teori kita
ini: Dengan mengendurnya kendali-kendali pemerintah, maka menurut hukum
kehidupan, pada ketika itu juga kekuasaan tadi ditangkap dan dirangkum
seluruhnya oleh satu tangan baru, karena kekuatan buta dari bangsa itu
tidak akan bisa hidup walau satu hari pun tanpa adanya tuntunan, dan
penguasa baru akan pas saat itu juga di tempat penguasa lama yang telah
dilemahkan oleh liberalisme.
Di masa kita ini kekuatan yang telah menggantikan kekuatan dari para penguasa liberal adalah kekuatan Emas.
Waktu telah berlalu ketika Kepercayaan (
Faith ) berkuasa. Cita-cita kebebasan itu mustahil untuk diwujudkan,
karena tidak seorang pun tahu bagaimana cara menggunakannya secara
moderat atau pas.
Adalah cukup untuk menyerahkan rakyat
kepada pemerintahan sendiri untuk suatu jangka waktu tertentu, karena
rakyat itu akan digiring menjadi mob yang tidak terorganisir. Mulai saat
itu kita dapati pergulatan baku hantam yang lalu berkembang menjadi
perkelahian antar kelas, yang di tengah-tengahnya Negara-Negara
terbakar, sehingga arti penting dari Negara-Negara itu merosot menjadi
sebuah timbunan abu.
Apakah sebuah Negara itu kelelahan
karena kejang-kejang sendiri, ataukah karena perselisihan internal yang
menariknya jatuh ke bawah kekuasaan musuh-musuh luar, dalam banyak kasus
dapat dianggap telah lenyap yang tidak bisa kembali lagi: Negara itu
telah kita kuasai. Despotisme kapital, yang seluruhnya ada di dalam
genggaman kita, akan membuat Negara itu mau tak mau harus mati-matian
menggapainya: yang apabila tidak tercapai bisa membuat Negara itu
tenggelam.
Andai ada seseorang yang berpikiran
liberal menganggap bahwa perbuatan-perbuatan seperti itu adalah amoral,
maka saya akan bertanya: Jika tiap Negara punya dua musuh dan jika musuh
itu adalah musuh dari luar yang diperbolehkan dan tidak dipandang
sebagai amoral ketika Negara itu menggunakan semua cara dan seni
konflik, seperti misalnya, membuat musuh tidak mengetahui
rencana-rencana penyerangan dan pertahanan, atau menyerang pada malam
hari, atau menyerang dengan pasukan berjumlah besar, lalu bagaimana kita
akan mengatakannya terhadap musuh licik yang melakukan hal yang sama
yang merusak struktur masyarakat dan kemakmuran, sebagai sesuatu yang
amoral dan tidak diperbolehkan?
Apakah mungkin menurut akal sehat bahwa
untuk mencapai keberhasilan dalam pemanduan rakyat jelata ( crowds )
melalui bantuan berbagai nasehat dan argumen yang masuk akal, ketika
penolakan atau kontradiksi, yang mungkin saja tidak berperikemanusiaan,
itu dapat dilakukan, dan ketika penolakan itu ternyata lebih disukai
rakyat, yang kekuatan-kekuatan pemikirannya sederhana saja? Orang-orang
di tengah-tengah massa dan orang-orang dari massa, yang dituntun hanya
oleh nafsu-nafsu picik, kepercayaan-kepercayaan remeh-temeh,
adat-kebiasaan, tradisi-tradisi dan theorisme sentimental semata,
menjadi mangsa dalam pertikaian partai, menghalangi semua kesepakatan,
meski kesepakatan itu berdasarkan pada argumentasi yang sempurna dan
kuat sekali pun. Setiap resolusi dari kelompok rakyat jelata bergantung
pada peluang atau kumpulan mayoritas, yang karena keawamannya pada
rahasia-rahasia politik mencetuskan beberapa resolusi yang menggelikan
yang terletak dalam penyelenggaraan bibit anarki.
Politik itu pada umumnya tidak ada
kaitannya dengan moral. Penguasa yang diatur oleh moral bukanlah seorang
politisi terampil, dan karenanya tidak kokoh di atas singgasananya. Ia
yang ingin memerintah harus memiliki kelicikan dan kemampuan untuk bisa
meyakinkan orang lain. Kualitas-kualitas nasional agung dan mulia,
seperti keterusterangan dan kejujuran, merupakan sifat-sifat buruk dalam
politik, karena bisa menjatuhkan para penguasa dari singgasana mereka
secara lebih efektif dan lebih pasti daripada musuh yang paling kuat.
Kualitas-kualitas semacam itu harus menjadi atribut-atribut dari
kerajaan-kerajaan Goyim saja, tetapi kita tidak boleh sedikit pun
dituntun oleh mereka.
Kebenaran kita terletak pada kekuatan.
Kata "kebenaran" merupakan suatu pemikiran yang abstrak yang tidak bisa
dibuktikan. Semakin banyak dibuktikan, hasilnya tidak lebih dari:
Berikan pada saya apa yang saya inginkan agar dapat saya buktikan bahwa
saya ini lebih kuat daripada kamu.
Dari mana kebenaran itu dimulai? Di mana berakhirnya?
Di Negara mana pun jika organisasi
kekuasaannya buruk, dengan undang-undang yang tidak dikaitkan pada
kepribadian dan para penguasanya telah kehilangan kepribadian mereka di
tengah-tengah banjir kebenaran liberalisme yang telah begitu menyebar
luas, saya temukan sebuah kebenaran baru - kebenaran menyerang dari si
kuat dan menghancurkan semua kekuatan tatanan dan regulasi yang ada, hak
merekonstruksi semua lembaga dan kemudian menjadi penguasa berdaulat
atas mereka yang telah menyerahkan hak-hak kekuasaan mereka itu kepada
kita dengan penyerahan sukarela di dalam liberalisme mereka.
Kekuatan kita di dalam kondisi seluruh
bentuk kekuasaan yang tengah sempoyongan sekarang ini akan menjadi lebih
tidak terlihat lagi di banding dalam kondisi-kondisi lainnya, karena
kekuatan kita itu akan tetap tidak terlihat sampai tiba saatnya ketika
kekuatan itu telah mencapai puncak kekuatannya di mana tidak diperlukan
lagi kelicikan untuk melemahkannya.
Di luar kejahatan kontemporer yang kita
terpaksa melakukannya sekarang ini, akan muncul kebaikan dari kekuasaan
yang tak bisa digoyang, yang akan memulihkan arus regular dari mesin
kehidupan nasional, yang oleh liberalisme telah diseret ke kehampaan.
Tujuan menghalalkan cara. Akan tetapi, dalam rencana-rencana kita ini
mari kita curahkan perhatian kita tidak begitu besar pada apa yang baik
dan moral sebagaimana halnya pencurahan pada apa yang perlu dan apa yang
berguna.
Di hadapan kita terhampar sebuah rencana
yang diletakkan secara strategis, sebuah garis dari mana kita tidak
dapat menyimpang tanpa mendapat resiko, melihat betapa banyaknya
pekerjaan selama berabad-abad yang tidak menghasilkan apa-apa.
Untuk mengelaborat bentuk-bentuk aksi
yang memuaskan, diperlukan memiliki sifat-sifat yang berkenaan dengan
keberengsekan, kelambanan, ketidakstabilan dari rakyat jelata, kurangnya
kemampuan untuk memahami dan menghargai kondisi-kondisi kehidupan
dirinya sendiri, atau kesejahteraan dirinya sendiri. Harus dipahami
bahwa kekuatan dari rakyat jelata itu adalah buta, tidak perasa, dan
kekuatan tanpa akal, selalu menerima anjuran dari pihak manapun. Si buta
tidak dapat memimpin si buta tanpa menuntun keduanya menuju jurang:
akibatnya anggota-anggota yang berasal dari rakyat jelata yang menjadi
orang baru naik , walau mereka itu seharusnya dipandang sebagai orang
yang cerdas dalam mengambil kebijakan, namun tidak memiliki pemahaman
tentang politik, sehingga tidak bisa dikemukakan sebagai
pemimpin-pemimpin rakyat jelata tanpa membawa seluruh bangsa ke
keruntuhan.
Hanya orang yang terlatih sejak masa
kanak-kanak untuk kekuasaan independen saja yang bisa memiliki pemahaman
tentang kata-kata yang tersusun dari alfabet politik.
Rakyat itu terserah kepada dirinya
sendiri, yakni kepada orang-orang baru naik dari kalangannya sendiri,
membawa dirinya sendiri kepada keruntuhan akibat pertikaian-pertikaian
partai yang terangsang untuk mencapai kekuasaan dan kehormatan sehingga
kekacauan pun muncul dari suasana seperti itu. Apakah mungkin bagi
kelompok-kelompok massa rakyat dengan tenang tanpa
kecemburuan-kecemburuan picik untuk melakukan penilaian-penilaian,
mengatur urusan-urusan negara, tanpa dicampuradukkan dengan
kepentingan-kepentingan pribadi? Bisakan mereka mempertahankan diri
mereka sendiri terhadap musuh dari luar? Adalah tidak masuk akal bagi
sebuah rencana untuk dipecah menjadi banyak bagian dengan adanya
pemimpin-pemimpin di dalam massa rakyat jelata yang telah kehilangan
seluruh rasa kebersamaan mereka, sehingga sulit untuk dipahami dan
mustahil untuk dilaksanakan.
Hanya dengan seorang penguasa yang
despotik saja maka rencana-rencana tersebut dapat dilaksanakan secara
luas dan dengan cara seperti ini pendistribusian dapat dilakukan secara
tepat kepada seluruh mesin Negara. Dari sini dapat disimpulkan bahwa
sebuah bentuk pemerintahan yang memuaskan untuk negara mana pun di dunia
ini adalah sebuah bentuk pemerintahan yang kekuasaannya
dikonsentrasikan di dalam genggaman satu orang yang bertanggungjawab.
Tanpa despotisme absolut tidak akan ada peradaban, yang dijalankan bukan
oleh kelompok-kelompok massa tetapi oleh pemimpin mereka, siapa pun
orangnya. Mob itu adalah sebuah kelompok yang buas dan memperlihatkan
kebuasannya pada tiap kesempatan. Begitu mob tersebut menggenggam
kebebasan di dalam tangannya, dengan cepat ia berbalik menjadi anarki
yang, di dalam dirinya sendiri, menduduki tingkat tertinggi dalam
kebuasan tersebut.
Perhatikanlah hewan-hewan yang diberi
alkohol, yang dibuat lena oleh minuman itu, di mana hak pemakaian luar
biasa minuman beralkohol itu tiba bersamaan dengan datangnya kebebasan.
Jalan ini bukan untuk kita dan bukan pula milik kita untuk ditempuh.
Rakyat-rakyat Goyim dibuat terlena oleh minuman beralkohol ini. Para
pemuda mereka telah dibodohi oleh klasikisme sejak awal kebejatan ini,
yang telah dirayu oleh agen-agen khusus kita - oleh tutor-tutor,
antek-antek, perempuan-perempuan upahan di rumah-rumah orang-orang kaya,
oleh klerek-klerek dan lain sebagainya, oleh wanita-wanita kita di
tempat-tempat pemborosan yang sering dikunjungi oleh Goyim. Yang
terakhir dari deret yang saya buat di atas adalah apa yang dinamakan
sebagai society ladies , pengikut-pengikut sukarela lain dalam korupsi
dan kemewahan.
Jawaban kita atas tantangan ini adalah -
Kekuatan dan Membuat Percaya. Hanya kekuatan bisa menguasai
urusan-urusan politik, terutama apabila kekuatan itu tersembunyi di
dalam talenta-talenta yang esensial bagi negarawan-negarawan. Kekerasan
harus menjadi prinsip, dan kelicikan serta membuat orang percaya,
menjadi aturan bagi pemerintah-pemerintah yang tidak ingin
mahkota-mahkota mereka jatuh ke kaki para agen dari beberapa kekuatan
baru. Kejahatan ini merupakan satu dan hanya satu-satunya cara untuk
meraih tujuan kita, yaitu kebaikan. Oleh sebab itu kita tidak boleh
berhenti menyuap, menipu, dan berkhianat ketika dibutuhkan untuk
mencapai tujuan kita ini. Dalam politik siapa pun harus tahu bahwa
bagaimana cara merampas harta milik orang lain tanpa ragu apabila dengan
cara tersebut kita amankan ketundukan dan kedaulatan.
Negara kita, yang berbaris sepanjang
jalan pendudukan damai, mempunyai hak untuk menggantikan horor-horor
perang dengan hukuman-hukuman mati yang kurang diperhatikan namun lebih
memuaskan, yang diperlukan untuk mempertahankan teror yang cenderung
menghasilkan kepatuhan buta. Hanya kekerasan tiada ampun saja yang
menjadi faktor terbesar dari kekuatan Negara; bukan hanya demi hasil
saja, tapi juga demi tugas dan demi kemenangan, maka kita harus tetap
kukuh pada program kekerasan dan membuat percaya. Doktrin penyelesaian
keuangan itu sama kuatnya dengan cara-cara penggunaannya. Akan tetapi,
pengaruh doktrin ini tidak sebesar pengaruh doktrin kekejaman yang akan
membawa kita kepada kemenangan dan membuat seluruh pemerintahan di dunia
tunduk-patuh pada pemerintahan super kita. Mereka cukup tahu saja bahwa
kita tidak memberi ampun sedikit pun sampai semua ketidakpatuhan itu
berakhir.
Jauh sebelumnya di masa lalu, kita
adalah orang pertama di antara kelompok-kelompok massa rakyat yang
menyerukan kata-kata: " Liberty, Equality, Fraternity ", kata-kata yang
sejak saat itu berulangkali diucapkan oleh para pembeo "poll" bodoh yang
datang dari seluruh penjuru dunia terbang menyambar umpan-umpan ini dan
lalu membawa lari penyejahtera dunia, kebebasan sejati individu, yang
dahulunya dijaga ketat dari tekanan mob . Calon-calon manusia bijak dari
Goyim, orang-orang intelektual, tidak akan bisa mengambil manfaat apa
pun dari kata-kata seruan dalam keabstrakannya ini; mereka tidak melihat
adanya kontradiksi pengertian dan saling keterkaitan di antara ketiga
kata itu; tidak melihat bahwa secara alami tidak ada yang bernama
equality itu, tidak bisa bebas. Alam itu sendiri telah menetapkan
ketidaksamaan ( inequality ) di dalam pemikiran-pemikiran, di dalam
karakter-karakter, dan di dalam kemampuan-kemampuan, persis sekekal Alam
itu sendiri yang telah menetapkan subordinasi (ketundukan) pada
hukum-hukum alamnya; tidak pernah berhenti berpikir bahwa mob itu adalah
makhluk buta, bahwa orang-orang yang baru naik dari kalangan mob nya
untuk memikul beban pemerintahan adalah orang-orang yang sama butanya
dengan mob itu sendiri dalam perkara politik, bahwa si pakar itu
sendiri, meski bodoh namun masih bisa memerintah. Sedangkan yang bukan
pakar meski genius, tetap saja tidak mengerti apa-apa tentang politik
Terhadap semua ini Goyim tidak mendapat penghargaan apa pun. Namun, pada
hal-hal semacam inilah selalu pemerintahan dinasti itu disandarkan.
Bapak mewariskan kepada anaknya pengetahuan tentang urusan-urusan
politik sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun harus tahu tentang
hal itu selain anggota-anggota dinasti sendiri dan tidak seorang pun
boleh berkhianat kepada yang mengatur. Begitu waktu berlalu maka
pengertian tentang pengalihan dinasti dalam urusan-urusan politik pun
menghilang, dan semua ini dibantu oleh keberhasilan rencana kita.
Kata-kata Liberty, Equality, Fraternity
ini telah menyeret seluruh legiun di dunia ke dalam barisan-barisan kita
sambil mengibarkan panji-panji kita dengan penuh semangat, berkat
adanya agen-agen buta kita. Dan sepanjang waktu kata-kata ini menjadi
belatung-belatung yang menggerogoti kesejahteraan Goyim, di mana-mana
mengakhiri kedamaian, ketenangan, solidaritas dan menghancurkan semua
fondasi Negara-Negara para Goyim. Akan anda lihat nanti bagaimana
kata-kata ini membantu kita untuk kejayaan kita: kata-kata ini memberi
kita kemungkinan, di antara segala kemungkinan, untuk meletakkan Kartu
As ke dalam tangan kita - menghancurkan hak-hak istimewa, atau dengan
kata lain eksistensi inti dari aristokrasi Goyim, satu-satunya kelas
yang membentengi rakyat-rakyat dan negeri-negeri itu terhadap serangan
kita. Di atas reruntuhan aristokrasi alami dan genealogis dari Goyim ini
telah kita bangun aristokrasi dari kelas terdidik kita yang dipimpin
dengan aristokrasi uang. Kualifikasi-kualifikasi untuk aristokrasi ini
telah kita tetapkan dalam kekayaan, yang bergantung pada kita, dan untuk
ilmu pengetahuan, para pini sepuh terpelajar kita telah menyiapkan
kekuatan motifnya.
Kejayaan kita telah dipermudah oleh
adanya kenyataan bahwa dalam hubungan-hubungan kita dengan orang-orang
yang kita inginkan itu telah kita lakukan selalu atas paduan suara yang
paling sensitif dari pikiran manusia yaitu, berupa rekening tunai,
berupa dewi asmara, berupa ketidakpuasan terhadap kebutuhan-kebutuhan
manusia akan materi: dan setiap kelemahan manusiawi ini, secara
sendiri-sendiri, sudah cukup untuk melumpuhkan inisiatif mereka, karena
mereka telah menyerahkan kehendak mereka sendiri kepada yang telah
menempatkan mereka, yang telah membeli kegiatan-kegiatan mereka.
Abstraksi kebebasan ini telah membuat
kita bisa merayu mob di seluruh negeri di mana pemerintah-pemerintah
mereka bukan apa-apa selain pelayan belaka bagi rakyat-rakyat yang
menjadi pemilik negeri-negeri itu, dan pelayan itu dapat diganti
bagaikan mengganti sarung tangan bekas.
Inilah kemungkinannya untuk menggantikan
wakil-wakil rakyat yang telah menempatkan mereka berada di bawah
kendali kita, sebagaimana halnya memberi kita kekuasaan untuk
pengangkatannya.
BACA JUGA TENTANG Protocol Of Zion:
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion_20.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-22-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-21-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-20-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-19-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-18-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-17-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-16-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-15-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-14-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-13-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-12-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-11-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-10-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-9-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-8-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-7-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-6-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-5-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-4-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-3-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-2-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/the-protocols-of-learned-elders-of-zion.html
BACA JUGA TENTANG Protocol Of Zion:
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion_20.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-22-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-21-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-20-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-19-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-18-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-17-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-16-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-15-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-14-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-13-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-12-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-11-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-10-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-9-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-8-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-7-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-6-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-5-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-4-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-3-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-2-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/the-protocols-of-learned-elders-of-zion.html

0 komentar:
Posting Komentar