Program Finansial. Pajak progresif.
Perpajakan progresif meterai. Bendahara, surat-surat tagihan bunga dan
stagnasi matauang. Metoda akunting. Pelarangan acara-acara seremonial.
Stagnasi modal. Penerbitan matauang. Standar emas. Standar biaya tenaga
kerja. Anggaran. Pinjaman negara. Seri bunga satu persen. Saham
industri. Penguasa-penguasa Goyim: orang-orang istana dan favoritisme,
agen-agen Masonik.
Hari ini kita akan membicarakan masalah
program keuangan, yang saya tangguhkan untuk diletakkan pada akhir
laporan saya karena merupakan bagian yang paling sulit, bagian puncak
dan paling penting dari rencana-rencana kita. Sebelum memasuki
pembicaraan ini perlu saya ingatkan anda bahwa saya telah membicarakan
masalah ini sebelumnya secara tidak langsung ketika saya mengatakan
bahwa seluruh jumlah tindakan kita ini diselesaikan oleh masalah
figur-figur.
Ketika kita memasuki kerajaan kita
pemerintah otokrasi kita akan menghindari prinsip pelestarian diri, yang
secara keliru membebani kelompok-kelompok massa rakyat dengan
pajak-pajak, padahal seharusnya pemerintah ini memainkan peran bapak dan
pelindung. Akan tetapi, mengingat bahwa organisasi Negara itu memang
mahal, maka penguasa perlu mencari dana-dana yang dibutuhkan untuk
organisasinya itu. Oleh sebab itu, pemerintah akan bekerja dengan penuh
kehati-hatian terhadap masalah keseimbangan di dalam perkara ini.
Aturan kita, yang di dalamnya raja akan
menikmati fiksi hukum bahwa segala sesuatu di negaranya itu adalah
miliknya (yang bisa dengan mudah diubah menjadi kenyataan) akan memberi
kemungkinan untuk melakukan perampasan berdasarkan hukum atas seluruh
jenis uang untuk diatur peredarannya di dalam negara. Bertolak dari sini
inilah maka selanjutnya perpajakan atas kekayaan itu sebaiknya
dilakukan berdasarkan pajak progresif. Dengan cara ini pajak-pajak
dibayarkan, tanpa membuat tegang atau meruntuhkan seseorang, dalam
bentuk persentase atas jumlah harta kekayaannya. Orang kaya harus sadar
bahwa ini merupakan kewajiban mereka untuk menyerahkan sebagian kekayaan
mereka yang berlimpah kepada Negara, karena Negara menjamin keamanan
atas harta milik mereka yang selebihnya serta atas hak-hak perolehan
yang jujur. Saya katakan jujur, karena penguasaan atas kekayaan itu akan
menghilangkan perampasan atas dasar hukum.
Reformasi sosial ini harus datang dari
atas, karena waktunya memang telah disiapkan untuk reformasi sosial itu.
Reformasi ini sangat diperlukan sebagai sebuah janji perdamaian.
Pajak atas si miskin merupakan benih
revolusi dan kerjanya merusak Negara, yang karena memburu yang
remeh-temeh ini menyebabkan hilangnya yang besar. Cukup terpisah dari
ini, pajak atas kapitalis-kapitalis menurunkan pertumbuhan kekayaan di
tangan-tangan swasta yang pada masa sekarang ini telah kita pusatkan
kekayaan itu sebagai kekuatan penyeimbang bagi pemerintah Goyim -
keuangan Negara-Negara mereka.
Suatu pajak yang meningkat dalam rasio
persentase terhadap modal akan memberi pemasukan yang jauh lebih besar
daripada pajak perorangan atau pajak kekayaan berlaku saat ini, yang
kini bahkan berguna bagi kepentingan kita dengan alasan tunggal, yaitu
akan menghasilkan kesulitan dan ketidakpuasan di kalangan Goyim.
Kekuatan yang akan menjadi sandaran bagi
raja kita akan dicapai di dalam keseimbangan dan jaminan keamanan, yang
untuk pencapaian semua itu para kapitalis harus menyerahkan sebagian
pendapatan mereka untuk jaminan keamanan kerja dari jalannya mesin
Negara. Kebutuhan-kebutuhan Negara harus dibayar oleh mereka yang tidak
akan merasakan beban itu serta memiliki kecukupan untuk diambil.
Tindakan seperti itu akan melenyapkan
kebencian si miskin terhadap si kaya, yang dalam diri si kaya itu si
miskin akan melihat dukungan keuangan yang diperlukan untuk Negara. Ia
akan melihat diri si kaya sebagai organisator bagi perdamaian dan
kesejahteraan, karena ia akan melihat bahwa si kayalah yang akan
membayar keperluan-keperluan untuk mencapai segala sesuatu itu.
Agar para pembayar pajak dari
kelas-kelas terdidik itu tidak merasa terlalu tertekan oleh pajak-pajak
baru itu, maka mereka akan diberikan rekening-rekening lengkap yang
menunjukkan kepada mereka tujuan dari pembayaran-pembayaran itu, dengan
pengecualian sejumlah uang yang akan alokasikan untuk
kebutuhan-kebutuhan istana raja dan lembaga-lembaga pemerintahan.
Dia yang berkuasa tidak akan mempunyai
kekayaan apa pun atas nama pribadinya ketika semua orang di Negara itu
mewakilkan patrimoni ini kepadanya, atau jika tidak maka akan terjadi
pertentangan satu sama lain; suatu bukti nyata bahwa penguasaan pribadi
atas seluruh kekayaan itu dapat merusak kepemilikan umum atas seluruh
harta benda yang ada di Negara itu.
Para kerabat dari dia yang memerintah,
kecuali ahli-ahli warisnya yang akan dibiayai dengan
sumberdaya-sumberdaya Negara, harus masuk ke dalam barisan-barisan
pengabdi Negara atau harus bekerja untuk mendapatkan hak kepemilikan
atas harta-benda. Privilese darah biru tidak boleh mengabdi pada Negara
karena akan merusak kekayaan Negara.
Pembelian, uang masuk atau harta warisan
akan terkena pembayaran pajak progresif meterai ( stamp progressive tax
). Tiap transfer kekayaan, dalam bentuk uang atau lainnya, tanpa bukti
pembayaran pajak ini, yang secara ketat akan didaftarkan nama-namanya,
akan membuat pemegang lama diwajibkan membayar bunga atas pajak sejak
saat pentransferan kekayaan sampai ditemukannya bukti-bukti
penghindarannya terhadap pernyataan transfer itu. Dokumen-dokumen
transfer itu harus diserahkan secara mingguan ke kantor perbendaharaan
setempat dengan disertai daftar nama, nama keluarga, dan alamat permanen
dari pemegang lama dan baru atas harta kekayaan itu. Pemindahan hak
milik yang disertai daftar nama itu harus dimulai dengan jumlah uang
yang pasti yang melebihi pengeluaran-pengeluaran biasa untuk pembelian
dan penyediaan barang-barang kebutuhan, dan semua ini harus dibayarkan
hanya dengan pajak meterai ( stamp impost ) berunit persentase yang
jelas.
Coba estimasikan berapa kali lipat pajak-pajak seperti ini akan memenuhi pemasukan dari Negara-Negara Goyim.
Bendahara Negara harus mempertahankan
komplemen pasti dari uang cadangan, dan semua yang terkumpul melebihi
komplemen harus dikembalikan ke dalam peredaran. Dengan uang ini akan
diorganisir pekerjaan-pekerjaan umum. Prakarsa untuk melakukan
pekerjaan-pekerjaan semacam ini berasal dari sumber-sumber Negara, yang
akan mengikat kelas pekerja kuat-kuat untuk kepentingan Negara dan untuk
mereka yang memerintah. Dari jumlah uang yang sama ini juga sebagian
akan disisihkan sebagai ganjaran-ganjaran bagi daya kreativitas penemuan
baru dan daya produktifitas.
Bagaimanapun juga, selama sebagai unit
tunggal di atas jumlah uang yang pasti dan bebas estimasi tidak boleh
ditahan di dalam perbendaharaan Negara, karena keberadaan uang itu harus
untuk diedarkan, dan setiap stagnasi uang akan bekerja merusak jalannya
permesinan Negara, karena uang itu adalah pelumas; stagnasi pelumas
bisa menghentikan kerja reguler dari mekanisme.
Substitusi surat tagihan bunga untuk
sebagian dari alat pertukaran ( token exchange ) ini nyata-nyata telah
menimbulkan stagnasi ini. Konsekwensi-konsekwensi dari keadaan seperti
ini sudah cukup banyak mendapat perhatian.
Bidang rekening juga akan kita
lembagakan, dan di dalam lembaga itu penguasa setiap saat akan mendapat
laporan akuntasi penuh untuk pemasukan dan pengeluaran Negara, dengan
pengecualian rekening bulanan yang sedang berjalan, yang belum disusun,
dan untuk bulan sebelumnya, yang belum akan diserahkan.
Satu-satunya orang yang tidak mempunyai
keinginan untuk merampok Negara adalah pemiliknya, penguasa. Itulah
sebabnya kontrol pribadinya akan menghilangkan kemungkinan
kebocoran-kebocoran atau pemborosan-pemborosan.
Fungsi wakil dari penguasa pada
resepsi-resepsi demi untuk etiket, yang menyerap begitu banyak waktu
berharga, akan dilarang agar penguasa itu bisa memiliki waktu cukup
untuk mengawas dan memberi pertimbangan. Kekuasaannya tidak akan
dibagi-bagikan di antara pengabdi-pengabdi kesayangan ( time-serving
favourites ) yang mengelilingi tahta demi kebesaran dan kemegahan, yang
perhatiannya hanya untuk kepentingan pribadi mereka sendiri, bukan untuk
kepentingan-kepentingan umum dari Negara.
Krisis-krisis ekonomi telah kita
ciptakan untuk Goyim hanya dengan cara menarik kembali uang dari
peredaran. Modal-modal raksasa telah memacetkan penarikan uang dari
Negara-Negara, yang secara konstan wajib diberlakukan pada modal-modal
pinjaman macet yang sama.
Pinjaman-pinjaman ini membebani
keuangan-keuangan Negara dengan pembayaran bunga dan membuat mereka
menjadi budak-budak yang terikat pada modal-modal ini ..... Pemusatan
industri di dalam tangan-tangan para kapitalis di luar tangan-tangan
majikan-majikan kecil telah memeras ke luar seluruh darah rakyat-rakyat
dan juga Negara-Negara ...
Penerbitan uang di masa sekarang ini
pada umumnya tidak terkait dengan kebutuhan per individu, dan karena itu
tidak dapat memenuhi semua kebutuhan para pekerja. Penerbitan uang
harus berkait dengan pertumbuhan populasi, dan dengan demikian anak-anak
mutlak harus dihitung juga sebagai konsumen matauang sejak hari
kelahiran mereka. Revisi atas penerbitan uang itu merupakan bahan
persoalan bagi seluruh dunia.
Anda tahu bahwa standar emas telah
mendatangkan kehancuran pada Negara-Negara yang pernah mengadopsinya,
karena emas itu tidak pernah bisa memenuhi kebutuhan akan uang, dan oleh
karena itu sejauh mungkin telah kita singkirkan emas itu dari
peredaran.
Standar yang harus kita gunakan adalah
biaya untuk tenaga kerja manusia, yang dihitung dalam kertas atau dalam
kayu. Akan kita terbitkan uang yang disesuaikan dengan
kebutuhan-kebutuhan normal dari tiap orang, plus tiap kelahiran dan
dikurangi tiap kematian.
Rekening-rekening akan dikelola oleh masing-masing departemen (divisi pemerintahan Perancis), di masing-masing lingkaran.
Agar tidak terjadi keterlambatan dalam
pembayaran uang untuk keperluan Negara, jumlah uang dan syarat
pembayarannya akan ditetapkan melalui keputusan penguasa. Cara ini akan
meniadakan proteksi oleh sebuah kementerian dari suatu lembaga yang bisa
merugikan kementerian lainnya.
Reformasi yang kita proyeksikan pada
lembaga-lembaga dan prinsip-prinsip keuangan Goyim akan kita terapkan
dalam bentuk-bentuk tertentu yang tidak akan mengkhawatirkan siapa pun
juga. Akan kita perlihatkan kepada mereka tentang perlunya
reformasi-reformasi yang berakibat pada ketidakberesan, yang pekat, yang
karena ketidakberesan-ketidakberesan ini telah menjatuhkan
keuangan-keuangan Goyim. Ketidakberesan pertama yang akan kita
perlihatkan diperoleh pada permulaan mereka merancang sebuah anggaran
tunggal yang dari tahun ke tahun terus bertumbuh karena sebab-sebab yang
mengikutinya. Anggaran ini terulur hingga setengah tahun, kemudian
mereka meminta sebuah anggaran untuk membereskan semua itu, dan anggaran
ini mereka perluas sampai tiga bulan, lalu mereka minta pula sebuah
anggaran tambahan, dan semua ini berakhir dengan pelikuidasian anggaran.
Akan tetapi, oleh karena anggaran tahun berikutnya itu dirancang sesuai
dengan jumlah dari total penambahan, maka kenaikan tahunan dari keadaan
normal mencapai 50 prosen dalam satu tahun, sehingga dengan demikian
anggaran tahunan ini menjadi lipat tiga dalam waktu sepuluh tahun.
Berkat metoda-metoda yang kita masukkan itu, yang muncul karena
kebodohan Negara-Negara goy, maka perbendaharaan-perbendaharaan mereka
menjadi kosong. Periode pinjaman-pinjaman ikut menyela dan menelan
sisa-sisa yang ada, dan kemudian menyeret semua Negara goy ke dalam
kebangkrutan.
Anda tahu benar bahwa
pengaturan-pengaturan ekonomi seperti yang kita anjurkan kepada Goyim
ini tidak dapat kita terapkan pada kita.
Setiap jenis pinjaman terbukti
melemahkan Negara dan keinginan untuk memahami hak-hak dari Negara.
Pinjaman-pinjaman menggantung seperti pedang Democles di atas
kepala-kepala para penguasa, yang bukannya memungut pajak-pajak temporer
dari rakyat-rakyat mereka, malahan sebaliknya memohon uluran tangan
bankir-bankir kita. Pinjaman-pinjaman luar negeri merupakan
lintah-lintah yang tidak memberi kemungkinan untuk disingkirkan dari
tubuh Negara sampai lintah-lintah itu jatuh sendirinya atau Negara itu
jatuh terhempas. Tapi, Negara-Negara goy tidak berusaha menanggalkan
lintah-lintah itu. Negara-Negara itu masih terus saja menempelkan lebih
banyak lagi lintah-lintah pada tubuh-tubuh mereka sehingga mereka pada
akhirnya kehabisan darah sendiri.
Apakah pada hakikatnya memang seperti
itu pula kejadiannya pada setiap pinjaman, terutama pinjaman luar
negeri? Sebuah pinjaman adalah semacam uang ( bill of exchange ) yang
diterbitkan pemerintah, yang mengandung sebuah kewajiban persentase yang
setara dengan jumlah modal pinjaman. Apabila pinjaman itu dikenai beban
tagihan 5 persen, maka dalam waktu 20 tahun Negara itu dengan sia-sia
membayar bunga yang jumlahnya sama dengan uang yang dipinjam, dalam 40
tahun Negara itu akan membayar jumlah dua kali lipat, dalam 60 tahun
menjadi lipat tiga, dan sementara itu hutangnya tetap menjadi hutang
yang tak terbayar.
Dari perhitungan ini nyatalah bahwa
dengan bentuk perpajakan per kepala apa pun Negara itu akan mengepak
koin-koin perunggu (coppers) terakhir dari pembayar-pembayar pajak
miskin untuk menyelesaikan rekening-rekening orang-orang asing kaya,
kepada siapa Negara itu telah meminjam uang, sebagai ganti dari
memunguti koin-koin pajak untuk keperluan-keperluan Negara itu sendiri,
yang jelas tanpa beban tambahan berupa bunga.
Sedemikian jauh ketika pinjaman-pinjaman
itu internal, Goyim hanya membolak-balik uang mereka mulai dari
kantong-kantong orang miskin hingga mereka yang kaya, tetapi ketika kita
beli orang yang kita perlukan untuk memindahkan pinjaman-pinjaman itu
ke luar, semua kekayaan dari Negara-Negara itu mengalir masuk ke dalam
kotak-kotak tunai kita, dan semua Goyim mulai membayari kita dengan
upeti-upeti dari rakyat-rakyat mereka.
Apabila kedangkalan berpikir dari
raja-raja goy, di atas tahta-tahta mereka, mengurusi Negara, dan mudah
disuapnya menteri-menteri, atau adanya permintaan penjelasan tentang
masalah-masalah keuangan dari pejabat-pejabat lain, yang telah membuat
negara-negara mereka menjadi penghutang-penghutang berat pada kas-kas
perbendaharaan kita, yang jumlahnya mustahil untuk dilunasi, maka
persoalan pengeluaran berat dan uang ini tidak akan dapat diselesaikan
tanpa adanya bantuan kita.
Stagnasi uang tidak akan kita
perbolehkan dan oleh karena itu tidak akan ada surat tagihan bunga
Negara, kecuali seri-seri satu persen, sehingga tidak akan ada
pembayaran bunga kepada lintah-lintah yang menghisap semua kekuatan ke
luar dari Negara. Hak untuk menerbitkan surat tagihan bunga akan
diberikan secara eksklusif kepada perusahaan-perusahaan industri yang
tidak akan sulit mengeluarkannya dari keuntungan-keuntungan mereka,
sedangkan Negara tidak akan dibebani bunga atas uang pinjaman seperti
halnya perusahaan-perusahaan ini, karena Negara meminjam uang itu untuk
dibelanjakan dan bukan untuk digunakan dalam operasi-operasi.
Surat-surat berharga industri juga akan
dibeli oleh pemerintah, yang semula sebagai pembayar upeti dengan
hasil-hasil pinjaman, akan berganti menjadi pemberi pinjaman uang dengan
keuntungan. Cara ini akan menghentikan stagnasi uang,
keuntungan-keuntungan parasitis dan kemalasan, yang semuanya itu berguna
bagi kita di kalangan Goyim, selama mereka independen namun tidak
memiliki keinginan untuk berada di bawah kekuasaan kita.
Betapa jelasnya kekuatan pemikiran dari
otak-otak murni kasar dari Goyim terbelakang ini, sebagaimana yang
diperlihatkan dalam peminjaman uang dari kita dengan pembayaran bunga,
tanpa berpikir panjang lagi bahwa pinjaman-pinjaman pokok plus
pembayaran bunga itu harus mereka keruk dari kantong-kantong Negara
mereka sendiri untuk menyelesaikan hutang mereka kepada kita. Apakah ada
cara yang lebih sederhana lagi untuk memperoleh uang yang mereka
inginkan selain daripada mengeruknya dari rakyat mereka sendiri?
Tapi, biar bagaimana pun juga, hal ini
merupakan bukti dari kecerdasan otak terpilih kita yang telah kita
rancang untuk menyediakan pinjaman-pinjaman bagi mereka dengan begitu
mudahnya, sementara mereka hanya melihat keuntungannya saja bagi diri
mereka sendiri.
Rekening-rekening kita, yang akan kita
persembahkan ketika waktunya tiba di bawah cahaya pengalaman
berabad-abad yang kita peroleh melalui percobaan-percobaan yang kita
lakukan terhadap Negara-Negara goy, akan diakui karena kejelasan dan
kepastiannya, dan sekilas akan memperlihatkan kepada seluruh manusia
tentang keuntungan inovasi-inovasi kita ini. Rekening-rekening ini akan
mengakhiri seluruh penyalahgunaan, yang dengan cara ini telah kita
dapatkan keuntungan melalui keunggulan kita atas Goyim, tetapi terlarang
untuk dilakukan di dalam kerajaan kita sendiri.
Kita akan sangat memagari sekeliling
sistem akunting kita, di mana tidak penguasa dan tidak pula pelayan
publik paling kecil sekali pun yang akan bisa menyelewengkan sepeser
uang kita dari tujuannya tanpa diketahui, atau membawanya ke arah lain,
kecuali yang akan segera ditetapkan dalam sebuah rencana aksi yang
pasti.
Dan tanpa sebuah rencana yang matang
adalah mustahil untuk berkuasa. Berbaris sepanjang jalan yang tidak
pasti dengan sumberdaya-sumberdaya yang juga tidak pasti akan menutup
jalan bagi para pahlawan dan separuh dewa.
Penguasa-penguasa goy, yang dahulunya
pernah kita beri saran, harus disimpangkan dari kesibukan-kesibukan
Negara melalui resepsi-resepsi representatif, kepatuhan-kepatuhan pada
etiket-etiket, dan hiburan-hiburan, yang hanya merupakan tabir-tabir
saja bagi penguasaan kita atas mereka. Rekening-rekening bagi
anggota-anggota istana yang melakukan tugas-tugas dari para penguasa ini
dibuatkan oleh agen-agen kita, dan setiap saat memberikan kepuasan
kepada mereka yang berpikiran dangkal dengan janji-janji bahwa di masa
depan nanti ekonomi dan perkembangan-perkembangannya nampak buram ...
Anda tahu ke arah mana mereka itu telah
dituntun oleh kesembronoan mereka ini, ke mana jatuhnya kekacauan
finansial ini, meski kerajinan rakyat-rakyat mereka mengagumkan.
BACA JUGA TENTANG Protocol Of Zion:
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion_20.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-22-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-21-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-20-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-19-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-18-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-17-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-16-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-15-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-14-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-13-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-12-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-11-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-10-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-9-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-8-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-7-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-6-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-5-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-4-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-3-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-2-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/the-protocols-of-learned-elders-of-zion.html
BACA JUGA TENTANG Protocol Of Zion:
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion_20.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-23-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-22-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-21-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-20-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-19-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-18-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-17-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-16-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-15-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-14-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-13-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-12-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-11-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-10-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-9-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-8-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-7-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-6-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-5-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-4-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-3-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/part-2-protocol-of-zion.html
http://ahmadthoriq-islam.blogspot.com/2014/03/the-protocols-of-learned-elders-of-zion.html

0 komentar:
Posting Komentar